Belajar


Sabtu, 28 Mei 2011

Duo Helikopter X, Tercepat di Dunia

VIVAnews - Nama mereka sama-sama menggunakan huruf X. Yang satu adalah Sikorksky X2, yang lainnya bernama Eurocopter X3.
Keduanya adalah helikopter-helikopter yang mampu melayang lebih cepat dari heli biasa.

Menggunakan bodi Eurocopter Dauphin, X3 punya beberapa modifikasi dari pendahulunya itu.
Seperti dikutip dari situs Physorg, X3 menambahkan mesin ekstra yang digunakan untuk menggerakkan dua baling-baling tambahan yang terletak di sayap pendek di kanan-kiri bodinya.
Walau cuma menggunakan satu mesin tambahan itu, namun pesawat yang kini masih berada pada tahap eksperimen itu  mampu berlari lebih kencang daripada helikopter biasa. 

Bila heli biasa biasanya terbang antara 240-260 km per jam (kph), X3 mampu melayang secepat 430 kph dengan stabil. Kecepatan ini menempatkan X3 menjadi salah satu helikopter tercepat di dunia.




Helikopter ini diproyeksikan untuk digunakan bagi keperluan misi pencarian dan penyelamatan SAR, tugas-tugas penjagaan pantai, misi patroli perbatasan, operasi lepas pantai, hingga angkutan antarkota.
Sementara untuk keperluan militer, heli ini bisa dimanfaatkan untuk operasi pasukan khusus, SAR, pengangkutan tentara, serta evakuasi medis.

Namun kecepatan X3 masih kalah oleh helikopter Sikorsky X2, yang saat ini juga masih pada tahap ujicoba. Pada ujicoba 15 September 2010, Sikorsky X2 berhasil melaju dengan kecepatan hingga 460 kph dalam penerbangan stabil.
Bahkan heli ini bisa menempuh 480 kph pada penerbangan dengan sudut sedikit menurun.


Tak seperti Eurocopter X3, Sikorsky X2 menggunakan coaxial rotor dengan baling-baling ganda serta diperkuat dengan baling-baling tambahan di bagian ekornya.
Helikopter ini menggunakan berbagai teknologi baru, antara lain sistem Fly-by-Wire yang memungkinkan sistem mesin beroperasi secara efisien.
Dengan kecepatan yang diraih saat ujicoba, X2 telah berhasil mencetak rekor tak resmi sebagai helikopter tercepat di dunia. (eh)

Minggu, 08 Mei 2011

Bapak Spam Dunia

VIVAnews - Gary Thuerk, Marketing Manager dari Digital Equipment Corporation (DEC), sebuah perusahaan komputer asal Amerika, pada 3 Mei 1978 ingin menyiarkan kabar seputar penjualan perdana komputer terbaru perusahaannya di Los Angeles dan San Mateo, California.

Atas sepengetahuan Carl Gartley, pemilik akun email yang dipinjam Thuerk, ia mengirimkan spam pertama ke jaringan komputer sejumlah unversitas dan lembaga pemerintahan yang dikenal dengan ARPAnet, yang merupakan nenek moyang jaringan Internet.

Saat itu, terdapat ribuan orang yang terhubung ke jaringan ARPAnet, dan sebagian besar dari mereka adalah ilmuwan komputer.

Thuerk sendiri bermaksud untuk mengirimkan email undangan bagi seluruh 400 anggota ARPAnet yang tinggal di kawasan pesisir barat Amerika Serikat.

Namun, bukannya mengirimkan email bagi tiap anggota itu satu per satu, seperti yang merupakan prosedur standar ketika itu, ia memutuskan untuk mengirimkan satu email saja ke seluruh 400 orang itu.

Sontak, langkah yang diambil Thuerk menyulut emosi komunitas ilmuwan yang tergabung dalam jaringan ARPAnet. Namun, upaya Thuerk membuahkan hasil, sejumlah korban yang ia kirimi ‘spam pertama di seluruh dunia’ itu akhirnya membeli produk yang dijual perusahaannya. Bahkan, dikutip dari Computer World, 6 Mei 2011, penjualan akibat spam itu mencapai nilai 13 sampai 14 juta dolar AS.

‘Kejahatan’ yang dilakukan Thuerk itu diabadikan dalam sebuah tayangan di jaringan televisi CBC bertajuk “SPAM: The Documentary.” Selain itu, ‘inovasi’ yang dibuat oleh Thuerk ini juga membuatnya tercatat dalam Guinness World Records sebagai bapak para spammer.

Saat ia melakukan apa yang ia perbuat ketika itu, Thuerk tidak menyadari bahwa tindakannya merupakan salah satu tindakan yang mengubah dunia komputer, khususnya dunia bisnis. Seperti diketahui, akibat ulah Thuerk, menurut data Symantec terakhir, sekitar 80 persen email yang dikirimkan di seluruh dunia saat ini merupakan email spam.

Namun demikian, dalam sebuah wawancara, Thuerk mengaku kondisi saat ini bukanlah kesalahannya. “Anda tidak bisa menyalahkan Wright Brothers (penemu pesawat terbang, red) akibat kecelakaan pesawat yang terjadi saat ini,” ucapnya.
• VIVAnews

Selasa, 03 Mei 2011

Pemanasan Global, Laba-Laba Beracun Migrasi


VIVAnews - Warga Amerika Serikat perlu waspada terhadap ancaman laba-laba pertapa atau laba-laba coklat yang semakin meningkat. Sebab, peneliti menemukan bahwa habitat laba-laba berbisa ini terus berpindah akibat perubahan iklim.

Akibat panas, laba-laba itu bergerak menuju ke kawasan utara yang bersuhu lebih dingin. Namun, kawasan tersebut justru lebih banyak dihuni manusia.

Seperti diketahui, laba-laba coklat ini sangat beracun. Satu gigitan laba-laba ini, dalam beberapa kasus, bisa mematikan.

“Ukuran luas habitat yang cocok bagi laba-laba coklat pertapa ini tidak berubah secara dramatis dalam waktu dekat,” kata Erin Saupe, peneliti dari University of Kansas, seperti dikutip dari Good Environment, Selasa, 3 Mei 2011. “Namun demikian, kawasan di mana mereka berkembang biak terus berubah.”


Lihat pada peta di atas. Garis putus-putus berwarna hijau merupakan kawasan di mana laba-laba tersebut berada saat ini. Adapun kawasan berwarna biru merupakan kawasan ke mana mereka diperkirakan bergerak akibat meningkatnya temperatur.

“Artinya, bukan berarti bahwa laba-laba coklat memperluas habitat mereka akibat temperatur yang lebih hangat, melainkan mereka melakukan relokasi,” kata Saupe. “Ini merupakan kabar gembira bagi warga Texas dan Oklahoma, tetapi kabar buruk bagi mereka yang tinggal di bagian utara,” ucapnya. (art)
• VIVAnews